Semoga kita senantiasa baik-baik saja.
Apakah ini menunjukkan, memang kita itu lebih cinta negeri dimana kita berpijak yaitu dunia dari pada negeri setelah kematian.
Padahal dunia itu dusta, akhirat itu Haq.
Mungkin butuh sesuatu yang "enak ditelan" oleh pikiran kita. Hal-hal sifatnya "bawah sadar" atau "abstrak" dan "tinggi" perlu "diturunkan" kpd sesuatu yang "kongkret". Seperti pil pahit, musti dilapisi yang "manis" agar jiwa "kanak-kanak" kita terhadap masa depan akhirat itu mau menelannya.
Yang "manis-manis" mungkin dalam bentuk cerita atau kisah. Baiklah.
Setelah kita bisa melawan "gravitasi" dunia tadi, dan merasa nikmat berada "di atas", baru kita bisa mencoba meminum dan menelan "pil pahit" mujahadah untuk menjemput hidayah yang lebih deras lagi. Apalah artinya pahit atau sengsara, jika sengsara itu membawa nikmat jiwa.
Ada benarnya pernyataan "Kepekaan itu memang dari dalam, namun kepekaan bisa dilatih dari luar perlahan-lahan."
Setelah kita bisa melawan "gravitasi" dunia tadi, dan merasa nikmat berada "di atas", baru kita bisa mencoba meminum dan menelan "pil pahit" mujahadah untuk menjemput hidayah yang lebih deras lagi. Apalah artinya pahit atau sengsara, jika sengsara itu membawa nikmat jiwa.
Ada benarnya pernyataan "Kepekaan itu memang dari dalam, namun kepekaan bisa dilatih dari luar perlahan-lahan."
Selebihnya, bahkan yang paling menentukan adalah hidayah Allah subhana wa ta'ala.
Yuk! Semangat menyongsong petunjuk-Nya.
Yuk! Semangat menyongsong petunjuk-Nya.


comment 0 comments
more_vertSilahkan berkomentar untuk menjalin persahabatan di dunia maya. Marilah menghidupkan kekayaan hati.
Jika ada kesalahan di dalam postingan, jangan segan-segan menasehati kami. Pintu selalu terbuka untuk itu.
Terima kasih telah menghentikan kesibukan Anda untuk berkunjung.