Aku pernah posting bahwa, ketika salah satu anggota atau unsur badan kita lemah, maka anggota atau unsur badan kita yang lain berusaha lebih aktif dari biasanya. Dari biasanya anggota atau unsur badan orang normal.
Seperti orang buta, maka anggota lainnya akan lbh sensitif. Yaitu pendengarannya, penciumannya, kulitnya, dsbnya, melebihi orang normal.
Sekarang yang aku alami, dan ini pernah aku posting juga mengenai kelemahanku adalah pendengaranku berdenging, akibat suatu kejadian, memakai headphone.
Maka, yang aku rasakan penglihatanku lebih aktif dari biasanya. Orang bicara dari jauh kadang aku kurang dengar, tapi aku "mendengar" dengan mata. Aku coba melatih dan perhatikan gerak mulut orang tersebut, sehingga aku bisa tebak dia bicara apa.
Lebih dari itu, mataku berusaha berlatih dan menerka-nerka apa yang dirasakan orang lain dari gurat-gurat, mimik wajahnya. Lalu menyimpulkan menjadi kesimpulan, jika itu terjadi berulang-ulang pada orang yang sama atau orang lain.
Semua kekurangan, pasti tersembunyi disana kelebihan. Sederhana atau kekurangan itu lebih atau kelebihan. Kata orang bijak: less is more.
Lebih dari itu, ....
Kita tahu bahwa, tanda-tanda baca yang kita tulis itu adalah wujud dari intonasi suatu kalimat jika kita baca secara keras (suarakan atau perdengarkan). Tanda koma berarti berhenti sebentar, tanda titik berarti berhenti lebih lama, bahkan perpindahan paragraf berhenti lebih lama. Tanda seru berarti mengeras, tanda tanya berarti menaik lalu merendah, dan sebagainya.
Berarti inilah yang kita maksud "mendengar" dengan mata. Bukankah kita membaca dengan mata? Lalu tanda baca membantu imajinasi kita seolah-olah mendengar intonasi itu.
Dengan aku mendalami bahasa, dan pendengaranku berkurang, akhirnya mata ketika lebih aktif melihat tulisan-tulisan, bisa atau mampu mengimajinasikan letak-letak tanda baca pada suatu kalimat, jika disitu tak ada tanda baca.
Dan, lebih mudah menemukan mana subjek dan mana predikat. Karena biasanya kalimat itu terdiri dari dua bagian, yang dipisahkan adanya perhentian sebentar dalam intonasi, yang bisa kita "dengar" dengan imajinasi kita oleh mata. Itulah batas antara subjek dan predikat. Dan predikat itulah kabar berita yang disampaikan kalimat atau pembicara.
Akibatnya, mengurangi salah faham, dan bisa membetulkan kalimat yang salah.


Luar biasa pengalaman nya, saya terkesima dengan tulisan ini. Semangat terus, dan sukses terus.
BalasHapus