Sedikit gambaran kondisi belajar anak-anak yang mondok dan yang tidak mondok atau pulang pergi bagi yang tinggal di lingkungan dekat pondok, sebelum ujian akhir semester pada pondok pesantren setingkat Sekolah Menengah Pertama.
Hari-hari ini dia sedang imtihan (ujian akhir semester).
Ternyata hasil anak-anak yang mondok sangat berbeda dengan anak-anak yang tidak mondok. Anak-anak yang tidak mondok salah satunya Kholid, lebih mutqin dalam hafalan dan lebih menguasai pelajaran-pelajaran diniyah.
Karena apa?
Karena di rumah masih ada orang tua yang mempersiapkan dalam menghadapi ujian. Me muroja'ah, menanyajawabi pelajaran-pelajaran yang akan diuji.
Sedangkan anak-anak yang mondok tentu saja pengasuh-pengasuh tak bisa memegang atau membimbing para santri agar mengulang-ngulang pelajaran. Bagaimanalah bisa membimbing satu-persatu anak-anak mondok? Kenyataan di lapangan bimbingan pondok pesantren bagi anak-anak yang mondok mempunyai perbandingan pengasuh banding anak-anak santri adalah 1 : 10. Tentu para pengasuh sangat repot untuk mengajari atau mengulang pelajaran-pelajaran yang akan diuji kepada anak-anak.
Belum lagi jiwa anak-anak yang tidak mondok lebih matang dari pada anak-anak yang mondok. Ini dikarenakan setiap kelakuan anak-anak yang tidak mondok selalu diperhatikan orang tua. Setiap kesalahan langsung terawasi dan langsung ditegur oleh orang tuanya. Sedangkan anak-anak yang mondok tidak selalu dalam pengawasan pengasuh, karena keterbatasan jumlah pengasuh seperti disebutkan di atas.
Sedangkan anak-anak yang mondok tentu saja pengasuh-pengasuh tak bisa memegang atau membimbing para santri agar mengulang-ngulang pelajaran. Bagaimanalah bisa membimbing satu-persatu anak-anak mondok? Kenyataan di lapangan bimbingan pondok pesantren bagi anak-anak yang mondok mempunyai perbandingan pengasuh banding anak-anak santri adalah 1 : 10. Tentu para pengasuh sangat repot untuk mengajari atau mengulang pelajaran-pelajaran yang akan diuji kepada anak-anak.
Belum lagi jiwa anak-anak yang tidak mondok lebih matang dari pada anak-anak yang mondok. Ini dikarenakan setiap kelakuan anak-anak yang tidak mondok selalu diperhatikan orang tua. Setiap kesalahan langsung terawasi dan langsung ditegur oleh orang tuanya. Sedangkan anak-anak yang mondok tidak selalu dalam pengawasan pengasuh, karena keterbatasan jumlah pengasuh seperti disebutkan di atas.
Perlu diperhatikan, hal di atas mampu dilakukan bagi orang tua yang tidak mempunyai kesibukan padat di luar rumah, atau hal itu bisa diterapkan orang tua yang mempunyai kesibukan sehari-harinya di rumah sendiri.
Pikirkan kembali masak-masak menaruh anak-anak kita yang masih kecil di pondok pesantren. Usahakan semaksimal mungkin untuk kita bisa tinggal di dekat lingkungan pondok dimana anak kita disekolahkan. Dan, tentu juga musti direncanakan bagaimana orang tua mempunyai kegiatan hanya di rumah tanpa banyak keluar rumah, sehingga dapat mendidik anak-anaknya, dan lebih dari itu akan timbul suasana keakraban, kedekatan dan kasih sayang antara orang tua dan anak-anaknya. (ibman)
Pikirkan kembali masak-masak menaruh anak-anak kita yang masih kecil di pondok pesantren. Usahakan semaksimal mungkin untuk kita bisa tinggal di dekat lingkungan pondok dimana anak kita disekolahkan. Dan, tentu juga musti direncanakan bagaimana orang tua mempunyai kegiatan hanya di rumah tanpa banyak keluar rumah, sehingga dapat mendidik anak-anaknya, dan lebih dari itu akan timbul suasana keakraban, kedekatan dan kasih sayang antara orang tua dan anak-anaknya. (ibman)
blog.sketsarumah.com
Seputar #hobi, #gagasan, #ide, #opini, #motivasi dan #gayahidup di studio www.sketsarumah.com.
Ikuti yuk! KLIK /TAP:
Telegram: https://t.me/blogsketsarumah_com
Twitter: twitter.com/blogsketsarumah
WhatsApp: wa.me/6285100138746
Seputar #hobi, #gagasan, #ide, #opini, #motivasi dan #gayahidup di studio www.sketsarumah.com.
Ikuti yuk! KLIK /TAP:
Telegram: https://t.me/blogsketsarumah_com
Twitter: twitter.com/blogsketsarumah
WhatsApp: wa.me/6285100138746


Setuju ttg anak2 yg mondok, tapi untuk yg tdk mondok itu tergantung juga dgn perhatian org tua.
BalasHapusSaya melihat langsung anak2 yg tdk mondok tapi memiliki org tua yg kurang perhatian. Jangankan membantu mengulang pelajaran di rmh, anaknya tdk berangkat sekolah sja si bapak ga tau. Sehingga si anak terlihat lbh buruk daripada yg mondok, baik watak maupun kecerdasannya.
Memang perhatian orang tua sangat berpengaruh untuk kemajuan si anak.
Anak ana yg pertama mondok, yang ke 2 PP.
BalasHapusAnak yang pertama : alhamdulillah gak seburuk kesan pondok yg digambarkan. Mungkin krn kondisi pengajar dan musrif matang dlm managemen pondok. Seminggu sekali wajib jenguk. Selalu ada laporan kejadian ttg si anak. Tetap digambarkan pd anak bhw kita tahu ttg dia selama dia jauh dari kita. Hafalan dibikin sistem mutqin... gak ngejar hafalan banyak.. tapi mutqin. Sampe ada yang pindah pondok luar ke situ.. sdh 9 juz ulang lg dr awal.
Intinya pondok harus ukur kemampuan managemen, gak kejar banyak santri. Kondisi kejiwaannyapun sejauh ini alhamdulillah berubah jauh kalo dia dirumah. Jd lebih penyayang sm adeknya. Jd lebih perhatian sm orangtuanya. Gak seperti dulu banyak dirumah.
Anak yang kedua : Kalo dipaksa mondok.. malah bs patah kondisi kejiwaannya. Belajar di Tahfidz prambanan. Perkembangannya baik alhamdulillah. Bs dipantau tapi memang tdk sematang & secerdas mas-nya, tp karakternya teliti dan telaten. konsetrasi tingkat tnggi (hehehe.. ) kalo belajar bs marah kalo diganggu. Hafalannya dlm "WasKat" (pengawasan melekat) pihak orang tua. Alhamdulillah sistem tahfidz yg diterapkan jg mengacu pd sistem mutqin.
Kesimpulan :
- Semua karena semata-mata kemudahan yg Allah berikan.
- Tergantung jumlah anak yang dididik kalo PP. Tergantung jg jarak umur antara si mas dan si adik. Lalu kalo anak PP jumlahnya banyak..., coba kira2 bisa muroja'ah semua gak? pasti akan bikin sistem tersendiri. Mungkin mas-nya jd musrif ortu. itupun kalo memang si mas matang dlm mengawasi adiknya memuroja'ah hafalan. kalo nggak ? ya keteteran jg. Mungkin kasus yg dilihat ammi hamzah krn ortu tsb punya anak banyak, tinggal di kota besar yg sibuk, tuntutan ekonomi yg mengharuskan si bpk brangkat pagi pulang tengah malam.
Maka.... Bersyukurlah dg kondisi yg mana Allah banyak berikan kemudahan didalam kita mendidik anak selama memang itu dlm pagar syar'i. beda keadaan.. beda kasus penanganannya. Beda jumlah anak.., beda juga kasusnya
Wallahu a'lam
-
Pendidikan Anak. Pondok atau Pulang Pergi ?. Satu judul (pertanyaan) yang bisa mengundang jawaban dari berbagai sisi pandang. Belum lagi tulisan yang mengambil sampel satu anak di satu pondok, yang tentu saja masih hipotetis sifatnya.
BalasHapusPaling sedikit ada tiga hal yang harus kita sepakati sebelum memberikan komen atas tulisan saudara kita ini. Pertama; kriteria “unggul” yang bagaimana yang kita maksud. Saya mengajak pembaca untuk menyatukan difinisi “unggul” ini, yakni manakala seluruh ranah pendidikan dan pembelajaran, yakni Ketrampilan (fisik), Penghayatan (kejiwaan), dan Penalaran (kecerdasan), mendapatkan porsinya secara proporsional dan bernilai baik. Kita toh tidak mungkin membandingkan cerdas dengan cengeng, atau bodoh dengan tegar. Kedua; yang kita bicarakan di sini adalah anak-anak pada usia di bawah 12 tahun, tidak termasuk yang lebih tua dari itu. Ketiga: Adanya kesetaraan di dalam pembandingan. Yakni, yang kita bandingkan adalah pondok yang ideal dengan keluarga yang juga ideal. Sebab tanpa kesetaraan di dalam pembandingan, tentu saja jawaban setiap orang akan bersifat subyektif. sehingga hasil dari pertanyaan ini tidak lebih menjadi sekedar sharing pengalaman. Agaknya bukan itu yang dimaksudkan “Mojo”.
Tentunya tak ada yang mengantarkan anak ke pondok kecuali karena alasan keadaan lingkungan , rumah tangga, atau keluarga tidak ideal (-yatim atau tidak punya ibu, misalnya-). Bisa juga karena orangtua yang males mengajar/mendidik anak dan mau tahu beres dengan menaruh anak di pondok. Bisa juga karena ada anggapan kalau dididik orang lain lebih mudah –satu anggapan yang belum tentu benar, tergantung kembali kepada alasannya-. Saya pribadi beranggapan –dibangun di atas pengamatan dan pengalaman- , kalau sama ortu saja sudah sulit apalagi dididik orang lain.
Anjuran agar orang tua yang pindah ke dekat pondok dan bukan anaknya yang mondok tentu mengundang persoalan baru, yakni siapkah infra struktur di sekitar pondok untuk menerima para pendatang baru dan siapkah penduduk asli di sekitar pondok menerima perubahan yang tiba-tiba sebagai akibat adanya perubahan demografi. Ternyata judul pertanyaan di atas bukan hanya bernuansa pedagogis atau psikologis, tetapi juga akan menyangkut ke persoalan sosiologis.
Ke depannya, bagi siapa saja yang hendak membuat lembaga pendidikan, sejak awal sudah mempertimbangkan hal semacam ini (persoalan infra struktur dan demografi). Sehingga prinsipnya bukan: bagaimana agar kita (guru) mudah mengajar, tetapi bagaimana agar murid mudah belajar. Yassarallahu lanaa.