Pagi tadi, kami belajar di pekarangan masjid, di atas area paving blok parkiran masjid, beratapkan lembaran-lembaran plastik. Angin berkesiur kesana kemari menambah riuh rendahnya suasana belajar di ponpes. Sebelumnya kelas 2 mutawasittoh belajar di teras masjid, berdampingan dengan area belajar kelas 3 mutawasitoh yang berada di dalam masjid. Mungkin, karena suara pelajaran yang disampaikan guru-guru lewat pengeras suara terlalu keras mengganggu konsentrasi belajar kelas 3, akhirnya kelas 2 dipindah ke area parkiran masjid.
Aku mengabsen santri-santri kelas 2 Mutawassithah.
Ternyata, aku menemukan salah seorang santri yang sebelumnya tidak hadir 2 kali berturut-turut. Namun, kali ini, ia pun hadir.
Lantas, aku tanya, "Kemarin dua kali tidak hadir, kemana?"
"Eeee ...eeee...," pita suaranya seperti tersangkut duri ikan bandeng. Ngeberebet.
"Kemana antum?" aku desak kembali, "telat?" aku memepet ia yang tak menyisakan ruang untuk membela dirinya sedikitpun.
"Eee ...iya ...iya...," ia kembali dengan suara terpatah-patah.
"BOLOOOS!! ... BOLOOSS!!... BOLOOSSSS!!" serentak santri-santri yang lain bereaksi. Protes. Puas melampiaskan nahi mungkar mereka.
Kaum muslimin, tak pernah bersepakat dalam kebatilan dan kesalahan. Pasti ada saja yang "anti kemapanan"! Pantas saja agama ini selalu Allah jaga sampai hari Kiamat, melalui klan yang selalu ditolong-Nya.


Afwan sekedar masukan
BalasHapusMungkin paragraf kedua itu lebih enak dibaca kalau kalimatnya diganti berikut:
Pagi tadi, aku mengabsen santri-santri kelas 2 Mutawassithah.
Ternyata, aku menemukan salah seorang santri yang sebelumnya tidak hadir 2 kali berturut-turut. Namun, kali ini, ia pun hadir.
Wallahu a'lam
Barakallahu fi juhudikum
masya Allah, jazaakumullah khoiron atas atensi dan masukannya
Hapussudah diganti ...he
Hapus