MASIGNASUKAv102
7273108224633006986

#59 Artikel : Jurnalisme Sastra

#59 Artikel : Jurnalisme Sastra
Add Comments
Sabtu, Juli 22, 2017


Jurnalisme Baru atau Jurnalisme Sastra

Saya ingin mengulang atau mengingatkan lagi tentang Fakta. Dan telah kita ketahui bahwa Fakta berbeda dengan Realita.

Apa itu Realita ?

Realita itu adalah apa-apa yang terjadi pada umumnya, apa-apa yang lazim atau semestinya, apa-apa yang telah sama-sama diketahui orang pada umumnya.

Lalu kalau FAKTA, itu apa ?

Coba bedakan tulisan di bawah ini, sehingga jelas perbedaan antara realita dan fakta.

(Kejadian nyata yang penulis alami di tahun 2003)

Realita
Dahulu, kereta api kelas ekonomi banyak yang sudah "bodol", kebersihannya jangan ditanya.
Di lantai kereta api banyak bertebaran segala macam sampah dan debu.
Para penumpang selalu berdesakan.
Ada pula banyak tukang copet di dalamnya, dan mereka tidak perduli, lelaki, wanita, tua, muda jika lengah pasti dicopet. Meskipun ada penjaga keamanan berseragam tentara, sepertinya pencopetan tetap berlangsung dan telah menjadi kejadian biasa sehari-hari.

Fakta
     Ketika aku akan menaiki kereta api kelas ekonomi jurusan Manggarai - Madiun pada waktu yang sudah lama berselang, di pintu gerbong masuk aku berdesakan dengan penumpang yang lain. Aku bersegera melepaskan diri dari berjubelnya penumpang di area pintu, agar segera mendapatkan tempat duduk.

     Sesampainya di tempat duduk, aku duduk dan terasa tas pinggang kecilku menjadi ringan. Cepat aku raba tas pinggangku, ternyata resleting tas itu telah terbuka. Aku lebih terkejut lagi, ketika ternyata penghuni tas pinggang itu telah 'menguap' entah kemana.

     "Pasti copet, di pintu masuk gerbong tadi," pikirku sambil termanggu lemas. Ya sudah, aku pasrah.Uang, KTP, karcis kereta api dan lain-lain di dalam dompet itu juga. Aku segera melaporkan kejadian yang aku alami kepada bagian keamanan yang berseragam hijau tentara.

    Suasana di dalam kereta api, makin membuatku gundah gulana. Di lantai kereta api berserakan sampah. Udara dalam gerbong kelas ekonomi ini sangat panas karena penumpang penuh sesak. Alhamdulillah, aku dapat tempat duduk di dekat jendela.

     Ketika kereta api mulai berangkat, datanglah serombongan petugas kereta api memeriksa karcis para penumpang kereta api. Aku lihat tentara yang tadi aku lapori beserta mereka.

      Giliran aku yang diperiksa, maka aku sampaikan kejadian yang aku alami, sambil menunjuk tentara itu dan berkata, "Mas itu yang sudah saya lapori"

     "Ini mas dompetnya," kata tentara itu sambil menyerahkan dompet yang tidak asing lagi bagiku.

     "Lho, kok bisa ketemu mas ?" tanyaku terheran-heran.

     "Biasa, kalau copet sudah 'nyopet' dompetnya dibuang ke WC"

Fakta tidak akan bercerita mengenai apa-apa yang terjadi pada umumnya, tapi apa yang terjadi pada orang-orang tertentu yang penulis ketahui.

Caranya, dari orang banyak pada umumnya yang mengalami kejadian sama (realita), lalu penulis berusaha mencari kejadian nyata (fakta) yang terjadi pada dirinya atau satu, dua orang, dan pengalaman dirinya atau orang-orang ini dipakai sebagai bahan tulisannya.

Orang sekarang ternyata memang lebih suka membaca mengenai orang lain yang mempunyai identitas jelas daripada mengenai orang banyak yang tidak diketahui kejelasannya.

Hal seperti ini, yaitu gaya penulisan bercerita sudah mulai, atau bahkan sudah lama dilakukan oleh penulis-penulis kawakan. Dan yang demikian dinamakan Jurnalisme Baru atau sering juga disebut Jurnalisme Sastra.

Jurnalisme Sastra memberi pencerahan kepada penulis-penulis dengan gaya penulisan bertutur untuk reportase "kemanusiaan" yang sangat rinci. Gaya penulisan seperti itu agar pembaca tidak jenuh dan lebih segar  dalam membaca berita yang biasa dahulu disajikan dengan 'kering' .

Sehingga apa yang saya sudah sampaikan di awal, bahwa mengapa kita musti menulis Narasi Non Fiksi atau Kisah Nyata, itu semua sudah dilakukan bahkan menjadi tren para wartawan dalam bentuk pemberitaan gaya baru.

Setelah ini akan saya kutip salah satu dari peliputan mereka para wartawan, dan akan menjadi wawasan bagi kita dalam menulis.

"Into the Darkness"
        (Di dalam Kegelapan)

          Saat itu kira-kira pukul dua siang pada 22 Februari 1993, dan saya sedang menikmati secangkir teh di sebuah toko di Hlaing Bwe, Negara Bagian Karen. Sebuah jip tentara berhenti di depan toko dan saya melihat tiga penumpang bersama sopir turun. Walaupun berkendaraan jip tentara, semua penumpangnya berpakaian sipil.

          Mereka kelihatannya tergesa-gesa dan tiba-tiba saya mencium bahaya.

          Ketakutan saya menjadi kenyataan ketika mereka semua langsung menuju ke arah meja saya dan mengelilingi saya. Salah satu wajah petugas itu kelihatannya saya kenali, tetapi saya tidak ingat lagi dimana kami pernah bertemu. Ia agaknya pemimpin rombongan itu dan, sambil memandang ke arah saya, berkata dengan suara perlahan, " Dapatkah anda pergi bersama kami untuk berbicara sebentar ?"

         "Untuk apa ?" saya menjawab.

          "Diam, brengsek !" sang pemimpin itu tiba-tiba berteriak.

          Sebelum saya dapat berbicara lagi, mereka mencekal lengan saya dan memborgol tangan saya di balik punggung. Setelah mereka memasukkan saya ke dalam jip, sang pemimpin mengeluarkan pistol dan mengokangnya. Pistol itu kemudian ditodongkan ke pelipis saya.

         "Kamu lihat, apa ini ? Jangan coba-coba menyulitkan kami," katanya mengancam.

Cuplikan dalam buku "Tortured Voices - Personal Accounts of Burma's Interrogation Centres" oleh Tin Win Aung

Cuplikan di atas hanya sekedar contoh yang dengannya saya tunjukan bahwa di khalayak umumpun menggemari kisah-kisah nyata (berita reportase) yang disajikan dalam bentuk Narasi Sempurna ( Ada Alur atau Plot, Kejadian, Tokoh-tokoh, dan tentu saja ada Konflik)

Ketrampilan mengungkapkan sesuatu dalam bentuk tulisan Narasi sangat dibutuhkan dalam membuat Tulisan YANG ENAK DIBACA.

Dan, itu dapat diterapkan dalam semua bentuk tulisan baik Narasi itu sendiri, Deskripsi, Artikel bahkan dalam Eksposisi sekalipun.

Hanya saja di dalam bentuk Eksposisi dan Artikel tidak perlu adanya Konflik.

Dan kita ingat kembali, bahwa penggolongan dalam bentuk-bentuk tulisan dalam suatu tulisan itu tidak mutlak adanya. Hanya saja, suatu tulisan biasanya akan lebih condong pada satu bentuk, meskipun di dalamnya mengandung unsur-unsur bentuk lainnya. Fleksibel.

Jadi, menulis enak khan ? Dibacapun juga enak.

www.sketsarumah.com

Sederhana itu Lebih - Less is More. Desain bukanlah menambah-nambah biar berfungsi, tetapi desain adalah menyederhanakan agar berdaya guna.

Bismillah,
Silahkan berkomentar untuk menjalin persahabatan di dunia maya. Marilah menghidupkan kekayaan hati.

Jika ada kesalahan di dalam postingan, jangan segan-segan menasehati kami. Pintu selalu terbuka untuk itu.

Terima kasih telah menghentikan kesibukan Anda untuk berkunjung.