MASIGNASUKAv102
7273108224633006986

#56 Kiat Menulis : Kepekaan

#56 Kiat Menulis : Kepekaan
Add Comments
Sabtu, Juli 22, 2017


Kepekaan

Penulis harus punya kepekaan-kepekaan  yang dapat diasah dengan tajam ketika membaca. Oleh sebab itu mengapa membaca itu sangat penting bagi penulis.

Yang pertama, adalah kepekaan bahasa seperti ; tulisan, paragraf, kalimat, arti kata, arti kiasan, bunyi kata dan sebagainya. Termasuk ini juga adalah tanda baca.
Perhatikan, ada tulisan yang enak dibaca, sedap kedengarannya, ada kata yang pas untuk menggambarkan sesuatu. Tetapi, ada pula yang janggal, tidak enak didengar, kurang sedap, kurang pas.
Ada tulisan yang isinya persis apa yang tertulis ada pula yang mempunyai arti ganda, dibalik kata-kata yang tersurat tersimpan arti yang tersirat, yang terkadang justru lebih bermakna daripada yang tersurat itu tadi.

Yang kedua, adalah kepekaan Materi. Terkadang kita kecewa dengan suatu tulisan yang isinya panjang-lebar dengan kata-kata 'wah' tapi isinya kecil saja. Ada juga, tulisan yang terlalu padat dengan data-data, hingga terasa tidak enak dibaca dan kering.

Cobalah perhatikan di bawah ini :

Bila ada seekor onta, kemudian kita perlihatkan kepada seorang anak kecil. Dan, kita suruh dia menceritakan tentang onta tadi. Mungkin dia menjawab, "Onta ? Wah, jangkung, lehernya melengkung, ada gunung dipunggungnya."
Kemudian kita panggil seorang ahli hewan untuk menceritakan apa itu Onta. Apa yang kita dapat darinya ? Banyak tentunya. Lebih dari cukup. Ada hal-hal yang menarik, dan ada hal-hal yang tidak menarik bagi kita. Bahkan ada hal-hal yang tidak kita perlukan dan membosankan. Mungkin, kita dapat informasi panjang kerongkongan onta, dan berapa lama onta mengunyah makanannya, dan lain sebagainya.

Ada tulisan yang terasa tidak lengkap, ada informasi yang tidak ada. Penulis seperti ini seperti anak kecil tadi. Ada tulisan yang terlalu lengkap dan bertele-tele bahkan membosankan. Penulis seperti itu sepoerti ahli hewan tersebut.

Seorang penulis yang peka terhadap Materi tulisan, sehingga agar tulisannya enak dibaca akan selalu menjauhi kedua ujung ekstrim ini. Penulis berusaha tulisannya berada ditengah-tengah. Dia akan menghindari hal-hal yang sudah diketahui orang banyak atau hal yang tidak perlu. Dia juga menghindari pengulangan-pengulangan. Dia juga akan menghindari hal-hal yang menyinggung perasaan, hal yang tabu, muak, membuat malu dan yang sejenisnya.

Tulisannya pas, isinya cukup lengkap dalam hal yang perlu masuk ada dan yang tidak perlu masuk tidak ada. Banyak 'racikan' yang membuat tulisannya enak dibaca dan mudah dimengerti. 

Ada tulisan yang jika kita telah membacanya akan berkata, "Wah hebat tulisan ini !". Ada juga yang berkata, " Benar juga ya ..." . Itulah dia tulisan yang enak dibaca.

Yang ketiga adalah kepekaan Bentuk tulisan. Ada bentuk-bentuk tulisan yang pas untuk materi tertentu, ada pula yang tidak.
Suatu resep makanan misalkan, tentu tidak cocok bila disajikan dalam bentuk Narasi. Suatu kisah perjalanan tentu tidak tepat bila diungkapkan dalam bentuk Eksposisi.

Kepekaan-kepekaan ini harus dimiliki penulis, yang mana naluri ini hanya dapat dimiliki dengan : membaca.

Saya juga belajar terus ttg yang di atas itu ...jadi mohon di maklum atau mohon diingatkan jika ada kesalahan-kesalahan.
Mari kita sama-sama belajar.

Dulu, ada seorang sarjana pertanian yg menulis kisah-kisah dia dalam membina para petani di desa ...

Akhirnya, jadi buku dan dia disejajarkan dgn penulis-penulis kawakan ...

Saya lupa namanya.

www.sketsarumah.com

Sederhana itu Lebih - Less is More. Desain bukanlah menambah-nambah biar berfungsi, tetapi desain adalah menyederhanakan agar berdaya guna.

Bismillah,
Silahkan berkomentar untuk menjalin persahabatan di dunia maya. Marilah menghidupkan kekayaan hati.

Jika ada kesalahan di dalam postingan, jangan segan-segan menasehati kami. Pintu selalu terbuka untuk itu.

Terima kasih telah menghentikan kesibukan Anda untuk berkunjung.