Coba kita lihat kopi STARBUCK, pernah diajak kakak ipar untuk sesekali menikmati kopi STARBUCK - harga segelasnya Rp 25.000,-! (tahun 2010 an). Gendeng, waktu itu uang sebesar itu, untuk segelas kopi kita harus menguras uang sebesar uang belanja sehari sebuah keluarga petani di daerah Jawa Tengah!
Namun, apakah orang yang meninum kopi tersebut merasa dirugikan? dibanding dia membeli kopi kiloan di Pasar Tanah Abang? Tentu TIDAK!
Tanya kenapa?
Siapa yang bisa jawab? Silahkan isi komentar sebagai saling berbagi kita dan sedikit menyumbangkan kekayaan hati kta.
Yang jelas ini merupakan pelajaran bagi kita ketika kita mulai mau berusaha menjalankan bisnis.
blog.sketsarumah.com
Seputar #hobi, #gagasan, #ide, #opini, #motivasi dan #gayahidup di studio www.sketsarumah.com.
Ikuti yuk! KLIK /TAP:
Telegram: https://t.me/blogsketsarumah_com
Twitter: twitter.com/blogsketsarumah
WhatsApp: wa.me/6285100138746
Seputar #hobi, #gagasan, #ide, #opini, #motivasi dan #gayahidup di studio www.sketsarumah.com.
Ikuti yuk! KLIK /TAP:
Telegram: https://t.me/blogsketsarumah_com
Twitter: twitter.com/blogsketsarumah
WhatsApp: wa.me/6285100138746

Yang di beli di starbuck adalah gengsi bukan semata kopinya, gengsi disini adalah bagian emosi pelanggan, Persepsi yang di sampaikan starbuck mampu membuat pelanggannya berkata( dalam benaknya, mindsetnya/persepsinya):.."saya orang yang mampu dan bisa nongkrong di cafe/warung kopi starbuck ..ini lho saya, saya seorang yang kaya, saya seorang yang parlente, saya punya duit, saya yang bergengsi, saya yang elit. ."
BalasHapusSama seperti membeli jam ROLEX yang nilainya ratusan juta bahkan miliaran,... Ketika memakainya pastinya Ada kebanggaan tersendiri.
Tidak akan beli kecuali yg punya dan merasa mampu membelinya.
Begitu pula merk2/ brand besar semisal mobil Lamborghini, ferrary, rols roice, mercy , BMW dll dengan hafga yang tidak masuk di akal, dan tak heran kalau ada istilah
Gendeng, edan, gila beneer niih orang beli mobil kok harganya sampai segitunya......, iya begitulah kedudukan harta Dimata para penggemarnya.
Btul ...btul ... btul ... sampe segitunya, beli bukan karena kebutuhan, tapi karena keinginan terhadap status.
Hapus